
Sebuah
pertanyaan, ketika GELAR SP, sudah menghias dibelakang nama, ”Mau kerja
dimana Jack?” ”eh jack di Bank anu buka lowongan tuh”, ”Jack Finace PT
itu buka lowongan”, ”di pemda itu buka lowongan PNS juga jack”.
”Wah aje gile, lo nawarin kerja kayak gitu! Terserah loe mau bilang apa,
mau bilang kolot, mau bilang gak tau jaman, mau bilang masa depan gw
yang gak jelas”. Di kepala gw, kerjaan yang akan gw lakoni, adalah
pekerjaan yang sesuai Hoby dan Profesi gw. Percuma kuliah gw 9 tahun
yang hampir di DO kalau gak mengapdi pada profesi gw.
Pokoknya kerjaan gak boleh mengalahkan minat, hoby atau profesi gw,
hahahaha kalau gw Sarjana pertanian trus gw kerja di Bank, atau
perusahaan yg kagak nyambung sama profesi gw, percuma gw kuliah
lama-lama di Fakultas Pertanian. Percuma gue belajar Dasar-dasar
agronomi (mana ngulang 3 kali lagi), belajar biologi umum, belajar Hama
penyakit tanaman, belajar Ekonomi pertanian, belajar ekonomi sumberdaya
alam, wah rugi deh, pokoknya! Itu artinya ilmu yang gw dapat dari dosen2
gw MUBAZIR banget and menyia-nyiakan ilmu yang sudah gw dapat trus gak
bisa di bagi-bagi atau bermanfaat buat orang banyak! Itu namanya
mengkufuri nikmat Tuhan! Bagi gue kalau kerja nggak cinta, nggak iklas
pasti hasilnya gak maksimal, yg di kejar bakalan urusan duniawi.
Penghasilan gede kerja 0 (NOL), ujung-ujungnya korupsi, kutit sana-
kutit sini! Itu dia yang kayak begitu yang gw gak mau.

WAJAR
kalau negara ini gak maju2, karena pikiran yang ada di otaknya adalah
duniawi saja alias uang, bukan ilmu, bukan bagaimana membangun dengan
kemampuan dan profesi kita! Gw nggak nyalahin temen-temen, itu mah
tergantung orangnya! Namun yang gw salahin adalah sistem Negara kita!,
and wajar saja bertahun2 negara kita, Indonesia yang terkenal sebagai
Negara agraris, ternyata gak maju2. Mau bagaimana kalau Sarjana
Pertaniannya gak mau kembali ke sawah, gak mau mengapdi ke bidangnya,
gak mau menyumbangkan ilmu dari bangku kuliah untuk kemajuan
pertanian!………Yah walaupun semuanya gak kayak begitu, sebagian sarjana
masih pada idialis, masih pada profesinya bekerjanya! Nah yang
sebagiannya lagi itu dia, Cuma kuliah yng penting dapet title….ini dia
perusak bangsa!
Bencana + Kebijakan mandul= Tempe mahal x Petani Miskin = Negara Semrawut
Tulisan di atas cuman sebagai pengantar, antara kenyataan yang ada
dan sebuah dilema para Sarjana di negeri ini. Yang pada ujungnya
ternyata apa yang di takuti oleh bangsa ini menjadi kenyataan. Dimana
Indonesia yang katanya negara agraris namun ternyata harus di dikte oleh
bangsa lain dalam menentukan harga hasil bumi. Sebenarnya kejadian saat
ini merupakan akumulasi dari berbagai macam permasalahan mengenai dunia
pertanian selama beberapa dekade terakhir ini. Ya salah satunya masalah
diatas, dimana sarjana pertanian yg enggan bekerja di dunia profesinya,
kebijakan pemerintah yang tumpang tindih, dan permasalahan lainya yang
membuat para petani malas untuk tetap bekerja mengarap lahan
pertaniannya, ya wajar saja bila saat ini Indonesia menjadi negara yang
ketergantungan terhadap bangsa lain dalam urusan pangan. Salah satunya
yang saat ini di hadapi adalah naiknya harga kedelai yang berujung pada
bangkrutnya sejumlah pengusaha yang menggunakan kedelai sebagai bahan
dasar produksi usahanya.
Pemerintah Indonesia selalu saja membohongi rakyat Indonesia, yang
katanya tidak akan ketergantungan pangan oleh bangsa lain, nah saat ini
ternyata kebohongan ini terbuka satu persatu, dari harga beras naik,
yang ternyata beras impor , bahkan pernah harga pesawat buatan anak
bangsa Indonesia disamakan harga beras dari negara sahabat. Ketika
Amerika mengalami krisis akibat naiknya harga minyak mentah dunia, maka
para ekonom negara paman sam tersebut menekan dengan menaikan harga yang
dibutuh oleh negara-negara miskin, negara yang membutuhkan
barang-barang yang diproduksi oleh Amerika, salah satunya adalah
meningkatnya harga kedelai dipasar dunia, yang berujung pada
meningkatnya harga kedelai di pasar Indonesia, kejadian ini akan
berujung pada krisis multidimensi seperti kejadian awal tahun 1998,
kalau tidak cepat ditangani lebih serius.
Permasalah yang akan terjadi akan sesuai dengan hukum ekonomi dan
hukum sibtitusi, dimana ketika kedelai naik, maka akan ada bahan-bahan
yang naik seperti tepung terigu, beras, jangung, yang nantinya disusul
naiknya harga bungkil kedelai yang menjadi bahan baku pakan ternak
sementara permintaan konstan atau terus meningkat. Menurut Kompas 17
Januari 2008 bahwa industri pakan ternak memproyeksikan kebutuhan
bungkil kedelai pada tahun 2008 sebanyak 1,6 juta ton, namun dikarenakan
kenaikan harga kedelai yang mencapai 50,6 persen per oktober 2007 dari
sebelumnya Rp 2.850/kg per november 2006 maka dampaknya adalah kenaikan
harga pada pakan ternak, yang berdampak pula pada naiknya haga ternak
yang pada gilirannya akan mendatang,terjadi kenaikan harga daging ayam,
telur dan menyusul nantinya kenaikan harga jagung dan lain-lain.
Kondisi pertanian di Indonesia memang kacau balau, karena pemerintah
memang tidak memiliki kebijakan yang memadai dan ketergantung pada impor
yang tidak di sesuaikan dan di persiapkan dengan baik serta disesuaikan
dengan siklus kebutuhan rakyat Indonesia. Kenyataan ini tampak bahwa
pemerintah tidak memiliki pandangan yang luas yang berjangka panjang
dalam kebijakan pertanian dan kebijakan lainya. Sehingga yang harusnya
dilakukan adalah mengubah paradigma pertanian, perubahan ini tidak saja
di eksekutifnya, namun di tingkatan bawah, seperti pejabat pemerintah di
daerahpun baik kepala dinas maupun petugas penyuluh lapangan hingga
akademi yang menjadi mitra pemerintah harus ikut berubah.
Dirubah atau Berubah

Menurut
Rhenald Kasali, Ph.D manusia akan berubah menuju kesukseksan ada dua
sebab pertama karena manusia memiliki rancangan atau rencana, secara
jangka panjang agar dapat menuju kesuksesan dan yang kedua adalah diubah
cara berpikir agar dapat survive dan memiliki paradima baru untuk
kesuksesan. Nah ternyata kemajuan yang pernah di capai bangsa indonesia
bukan karena ingin berubah namun karena diubah yang secara nyatanya
adalah bangsa indonesia ini dipaksa berubah karena situasi dan kenyataan
yang ada, baik masalah pertanian, ekonomi, pendidikan dan lain-lain.
Manusia-manusia Indonesia tidak pernah sadar atau memiliki wawasan
kedepan, sebuah rencana jangka panjang untuk sebuah perubahan dan
kesuksessan dalam bidang apapun, baik pertanian, pendidikan,
perekonomian lingkungan dan lain-lain. Ini terbukti dari beberapa
kejadian salah satunya ketika harga kedelai naik maka harga kebutuhan
lainya naik dan pemeintah kita tak punya soslusi yang memang seharusnya
dalam hitung-hitung kejadian ini telah diprekdiksi, ini sama halnya
dengan bencana yang ada di indonesia seperti banjir, kebakaran hutan dan
lain-lain, dimana pemerintah akan berubah ketika kebakaran jengot,
ketika banjir sudah terjadi dan menelan korban jiwa, baru membuat
program penghijauan, baru gembar-gembor global warming, ketika budaya
Indonesia diakui negara tetangga, baru mulai sibuk..ini jelas-jelas
pemerintahan Indonesia hanya memliki pandangan sempit sama dengan
pandangan kacamata kuda, yang hanya bisa melihat kekanan dan kiri saja.
Harga Pangan dunia & harga pangan dalam negeri = Petani Miskin + Rakyat Miskin Gizi
Pada sebuah pers, Menteri Pertanian R.I Anton Aprioyato mengatakan
bahwa pemerintah Indonesia menyadari akan ketergantungan pangan di
indonesia terhadap bangsa lain. Yang berujunganya tidak baik bagi
kethanan pangan bangsa indonesia. Dan yang terjadi adalah negara
Indonesia tidak berhasil meredam harga pangan di pasar dunia yang
berakibat terseretnya harga pangan dalam negeri.
Keadaan diatas karena Pemerintah tak sanggup membuat program untuk
merangsang petani agar mau melakuakn intensifikasi usahati, sebenarnya
semua ini adalah hukum sebab akibat, Petani tidak mau berusahatani
karena harga saprodi (Sarana produksi pertanian) seperti pupuk bibit,
dll mahal, sementara harga produksi murah karena adanya kebijakan impor
terhadap hasil pertanian yang mengakibatkan harga produksi dalam negeri
lebih murah dari produksi yang dimpor. Wajar saja ketika kedelai naik
beras naik, kok petani masih Miskin, wajar saja sarjana pertanian enggan
kembali bekerja di profesinya, wajar saja para petanipun beralih usaha.
Bangsa TEMPE
Kebayang tidak sebelumnya bahwa Tempe yang merupakan makan paling
murah yang dibuat dengan di injek-injek menggunakan kaki, ternyata saat
ini menjadi makanan yang berkelas yang tak sanggup lagi dibeli oleh
tukang becak, oleh para kaum miskin, padahal Tempe merupakan makanan
faforit yang murah meriah, makan yang memiliki protein nabati tinggi,
makanan sehari-hari gw yang telah mencerdaskan isi kepala bangsa
indonesia dari tempe bacem, tempe goreng, tempe penyet, mungkin saja
nanti harga tempe lebih mahal dari harga daging ayam, dan bisa saja
nanti ada hamburger rasa tempe. Ini baru tempe yang naik, belum beras,
belum susu, belum barang-barang lainnya. Kebayang tidak keuarga yang
sehari-hari makan dengan tempe tahu saat ini tak sanggup lagi
membelinya, mungkin makan nasi dan garam saja.
Walaupun negara ini di bangun oleh anak bangsa yang cerdas karena
makannya sehari hari dengan tempe, namun ternyata memang Indonesia
adalah bangsa Tempe, yang ternyata juga bermental tempe, berotak tempe,
bersifat tempe. Bekerja dan berpikir untuk sesat tanpa untuk kemajuan
kedepan.
Bangkit atau terlena
Ibarat makanan kalau setiap hari cuman makan dengan nasi tempe makan
akan bosan, maka harus berubah menu yang sedikit istimewa dengan nasi
telor, dan seterusnya menjadi nasi daging yang 4 sehat 5 sempurna.
Inilah lah yang harus dilakukan oleh bangsa ini, setiap saat selalu
terpuruk maka saatnya harus bangkit dengan pemikiran kedepan agar kita
dapat keluar dari krisis pangan, krisi multi dimensi, namun saat keluar
jangan hanya sesaat, namun seterusnya hingga rakyat bangsa ini
sejahtera. Tidak saja pejabatnya namun petaninya, tukang becaknya, semua
orang lapisan bawah yang merasakan kesejahteraan.
Sikap dan tindakan pemikiran jangka panjang yang berwawasan luas ini
harus dimulai oleh para sarjananya, para pemuda, dan yang pasti harus
didahului oleh pemimpinya, serta pemerintahnya. Yang mana para sarjana
bekerja sesuai profesinya, para dosen kembali ke kampus untuk mengajar,
bukan mengejar proyek, PNS yang merupakan pelayan rakyat harus melayani
rakyat, pemimpin pemeritahan harus berpikir untuk kemajuan bukan untuk
bagaimana caranya korupsi. Bila kita kembali ke visi dan FOKUS maka
negara ini akan terlepas dari bencana, bencana krisis multi dimensi
sumber : http://omahtani.wordpress.com/2011/12/15/petani-miskin-harga-hasil-bumi-naik%E2%80%9Dsarjana-pertanian-apa-gunamu-%E2%80%9D/#comment-52