Kamis, 05 April 2012 4/05/2012

Dampak Tsunami Terhadap Sektor Pertanian

» Dampak Tsunami Terhadap Sektor Pertanian


Terdapat 9 kabupaten/kota yang terkena tsunami di NAD. Daerah yang mengalami kerusakan lahan pertanian cukup berat terjadi di Kab. Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Pidie, Bireun, dan Aceh Jaya. Ribuan hektar tercemar lumpur yang terbawa gelombang tsunami.

Kondisi di lapangan pasca tsunami terlihat pada kondisi rumput yang mati total. Masyarakat khawatir sawah mereka tidak dapat ditanami untuk waktu yang lama karena kadar garam yang terlalu tinggi. Selain areal sawah, ratusan ribu sumur penduduk pun ikut tercemar. Kondisi ini menyebabkan pembangunan sektor pertanian terhenti dan memerlukan penanganan serius untuk perbaikan.
Gempa bumi, masuknya air laut (salinitas) dan tebalnya endapan lumpur (sedimen) membuat kerusakan lahan pertanian yang serius. Secara umum kerusakan di pantai barat lebih berat dibanding pantai timur. Di pantai barat, tinggi timbunan lumpur yang menutup lahan umumnya di atas 20 cm, dibanding di pantai timur yang umumnya ri bawah 20 cm. Lumpur tebal (>10 cm) umumnya dijumpai pada jarak 3 � 4 km dari pantai, makin dekat ke pantai ketebalan lumpur makin tipis. Hasil analisa laboratorium yang dilakukan oleh Tim Puslitbangtanak, Badan Litbang Pertanian, terhadap contoh lumpur dan tanah yang diambil di beberapa lokasi menunjukkan tingginya daya hantar listrik (DHL), >10 dS/m untuk lumpur dan 2 � 12 dS/m untuk tanah permukaan. Umumnya tanaman semusim seperti jagung, kacang tanah, dan padi mulai terganggu pertumbuhannya pada DHL 4 dS/m. Kandungan garam pada contoh lumpur dan tanah juga cukup tinggi yaitu 2.000-26.900 ppm untuk lumpur dan 140 � 6.000 ppm untuk tanah.
Tingkat kerusakan lahan yang terjadi a.l. lahan sawah (termasuk subsektor hortikultura) seluas 20.101 ha, ladang tegalan (tanaman palawija dan horti) 31.345 ha, dan perkebunan diperkirakan 56.500 � 102.461 ha (data FAO � Deptan) yang terdiri atas lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe. Adapun jumlah ternak yang mati ataupun hilang adalah 78.450 ekor sapi, 62.561 ekor kerbau, domba 16.133 ekor, kambing 73.100 ekor, dan unggas 1.624.431 ekor.
Infrastruktur usahatani, seperti jaringan irigasi, bangunan irigasi, jaringan saluran tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang, terasering (lahan kering) serta bangunan petakan lahan usahatani pun tak luput dari kerusakan. Disamping itu juga berbagai peralatan, seperti hand tractor, pompa air, traktor besar, alat pengolah nilam, karet, minyak kelapa, dan pengolah dendeng ikut rusak.
FAO memperkirakan kehilangan produksi bidang pertanian mencapai US$ 78,8 juta, dan prakiraan kerusakan infrastruktur pertanian sebesar US$ 33,4 juta. Upaya rehabilitasi di wilayah pantai barat diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Sedangkan pantai timur yang kerusakannya relatif lebih ringan dapat direhabilitasi dalam kurun waktu satu hingga dua tahun.

Dikutip di : http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/192/
Sumber : Tim Nasional Penanggulangan Bencana Alam Aceh tertanggal 8 Pebruari 2005

0 Comments On "Dampak Tsunami Terhadap Sektor Pertanian"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

BERITA TERKINI

« »
« »
« »

GALERY AGROTEKNOLOGI

Cari Blog Ini

Blogger Indonesia

Blogger Indonesia

ANDA PENGUNJUNG KE

Diberdayakan oleh Blogger.
Blogger Templates

Translate

close

Entri Populer

SALAM AGROTEKNOLOGI

SALAM AGROTEKNOLOGI

Cuaca Hari ini

free counters

HASIL PERTANIAN

HASIL PERTANIAN

Pengikut

About Me